Bulan Januari kemarin tepatnya, adalah pertama kali aku berkenalan dengan yang
namanya gunung. Bersama kakak
- kakak angkatan yaitu sebut saja mas Radit, mas Norma, mba Asri, mba Yani, dan
saya Tin Ria. Dan posisiku sebagai angkatan termuda, angkatan
XV. Sebelum keberangkatan,
kami memang dituntut untuk latihan fisik, persiapan kami
harus lebih dari 200%. Lumayan setiap hari menabung lari minimal 6
kali putaran.
GOR Soesilo Soedarman. Selain
itu, menyusun SOP, menu untuk bekal dan itu butuh waktu lebih dari seminggu.
Apalagi masalah isi tas kami, aku masih ingat perkataan mas dimen
"Kirain udah dimasukin, dikeluarin lagi". Bongkar pasang
isian tas hampir setiap hari, catatan yah ini adalah pendakian untuk yang pertama
kalinya bagi kami kecuali mas radit jadi yang sudah sering sekali, bisa jadi tiap bulan
hhe jadi harap maklum.
Tidak hanya
sampai di situ, hari pendakian sempat diundur untuk beberapa
hari, tapi hal itu membuatku semakin gugup. Memikirkan bagaimana nasibku
disana melihat
cuaca di purwokerto yang sulit diperkirakan. Sebelum berangkat keesokan
harinya, malam
hari kami berkumpul. Mengecek
tenda, perbekalan, dan lainnya. Aku pulang bersama
mba yani dan menginap di
asput, aku masih ingat mba yani menulis di buku pada kolom
kembali "pukul 00.00".
Hari pendakian tiba, ah aku semakin
gugup. Pukul 14.00 aku ke markas, sedikit
pengecekan tas aku lakukan "lagi".
Hari itu agak mendung di Purwokerto. Sampai di
Bambangan,
kami disapa gerimis dan hujan lebat pada pagi harinya. Selagi menunggu hujan
reda, banyak pendaki dari berbagai kota yang
baru turun. Mereka bercerita bahwa di atas
sana
sedang badai, ada serangan babi, dan mereka tidak bisa "muncak".
Pikiranku
semakin berkecamuk, jadi manjat? Bisa muncak? Apa kabar badai dan
babi? Ibu pemilik base camp
juga menyarankan untuk mengurungkan niatan kami mendaki
hari itu dan kembali seminggu kemudian. Masa batal, aku sudah sejauh
ini.
……………….( sampai Bambangan )………………………..
Pendakian
pun tetap berlanjut, sampai di gerbang saja sudah tidak karuan. Hujan dan
dingin. Sampai di kebun, beristirahat sejenak, dan memutuskan untuk memakai
mantel. Kami cukup sering beristirahat,
karena hambatan faktor alam ini. Hampir sampai di pos 1, aku
melihat sesuatu. Aku yakin ada pendaki di depan yang akan turun.
Bukan hanya aku yang
melihat, tapi kami semua. Aku
sudah bersiap untuk minggir, berbagi jalan. Tapi, aku heran
kenapa mereka tidak sampai
sampai, aku hanya diam, menyimpan tanyaku.
Akhirnya kita sampai di Pos 1 dengan ketinggian sekitar 1700 m dpl
s. Di pos 1, kami memasak air untuk menghangatkan tubuh dan aku juga sudah
lapar. Rasanya ATP ku tidak mencukupi,
sudah habis digilas hujan.Cuaca masih hujan, tapi harus terus dilanjutkan,
sesuai dengan SOP yang telah disusun sebelumnya. Baru beberapa langkah, aku
sudah melihat
tanjakan yang cukup licin dan
memutar otak bagaimana cara efektif. Ternyata caraku tidak
efektif, aku terpeleset.
Jalur menuju pos 2 menurutku jalur yang paling panjang, curam, dan gelap. Jujur saja, aku takut. Tidak ada pendaki lain selain kami. Sampai pos
2, seperti biasa mengisi ulang kuota ATP untuk menuju pos selanjutnya.
Menuju pos
3, aku bertemu dengan para pendaki yang turun. Aku perhatikan mereka. Wajah mereka
sangat merindukan rumah, ingin sekali pulang. Mungkin mereka yang terjebak di
pos 5 atau 7 gara - gara badai. Pakaian mereka basah. Yang aku herankan, aku
melihat
seorang pendaki yang hanya memakai baju partai dan sarung dalam
rombongan itu hha gokil juga nih. Sampai di pos 3, banyak pendaki yang akan
turun. Aku melihat serombongan mahasiswa disana sedang bersiap siap. Dalam
rombongan ini, aku hanya melihat seorang
perempuan diantara segerombolan laki laki. Ah sudahlah.
Semangat 2
pos lagi. Perjalanan menuju pos 4 juga semakin menakutkan. Tanjakan semakin
tinggi. Berjalan seperti di selokan penuh air diantara dinding tanah yang
tinggi dan akukhawatir akan adanya cacing atau mungkin bisa saja yang lebih
besar. Semakin dekat,
semakin melelahkan. Sekitar 2 km dari pos 4, kami beristirahat.
Hujan semakin deras.
Mas radit sempat menawarkan untuk mendirikan tenda di tempat itu,
tapi kami menolak.
Aku menolak, aku tidak mau, walaupun itu dataran. Aku takut,
pepohonan di tempat itu
sangat lebat, akar - akar yang mencuat menandakan betapa tuanya
pohon pohon disana.
Tidak mau
berlama lama, kami melanjutkan perjalanan kami. Sesuai perjanjian,
sampai di pos 4 kami tidak berhenti. Tidak ada jatah waktu
beristirahat di pos 4. Daerah ini
adalah daerah yang rawan sekali terserang petir, terbukti banyak
pohon – pohon yang
tumbang berwarna kehitaman. Selain itu ada juga beberapa hal lain
yang membuat kita tak
berhenti di sana yah apalagi hari sudah semakin sore kami tak ingin
berlama – lama berada
di tempat yang cukup berbahaya ini. Ya aku masih ingat ranting –
ranting pohon yang kami
lewati seperti menunjuk awan diatas kami tanpa ada dedaunan yang
meneduhi. Kami berjalandengan sangat
hati – hati karena disamping kiri kami adalah jurang. Kami bergegas ingin
segera sampai di Pos 5.
Keresahan kami sedikit berkurang
ketika kami melihat sebuah gubuk kecil,dindingnyaterbuat dari kayu dan seng
serta tembelan - tembelan plastik bekas mantel hujan untuk
menutupi
beberapa lubang di dinding itu. Di gubuk tidak ada orang, hanya kami berlima,
ini merupakan keberuntungan kami karena Mas Radit (our leader ) mengatakan
kalau lagi rame – ramenya mendaki bisa jadi kita buat tenda diluar gubuk. Aku
tak bisa membayangkan
betapa
dinginnya itu dan aku tidak ingin membayangkannya juga. Di Pos 5 kami
mendirikan tenda diatas seperti panggungan dari papan di dalam gubuk itu.
Sebagian dari kami juga ada
yang
memasak air the + Jahe wangi (minuman pendamping semua menu).
Dingin,lapar,lelah sepertinya akan jadi teman selama di sini. Malam harinya
kita masak lagi nih, sesuai menu di jadwal. Untuk penerangan kita menyalakan
lilin di dinding – dinding gubuk itu.
Malam harinya ada rombongan yang mau
naik juga ke Slamet, semuanya bapak –
bapak mungkin ada juga sih yang belum jadi
bapak hhe. Kami sedikit berkenalan mereka
dari
baturaden. Bersama mereka kami berniat muncak esok hari. Karena udah malem kita
tidur
berlima satu tenda dumb dengan Kantong tidur kita masing – masing. Sedikit banyak
berdesak
– desakan.
Keesokan harinya, pukul 04.00 kami
bangun. Karena masih hujan kami memutuskan melakukan perjalanan pukul 07.00 .
Bersama bapak – bapak itu kami menuju pos 6 . Oh ya
kita
keatas dengan membawa bekal secukupnya saja selebihnya kita simpan di tenda.
Sampai di Pos 6 kita beristirahat sebentar sekedar mengatur nafas dan minum
oralit ditemani gula
jawa
dan choki - choki disaku kami sebagai penambah energi. Sampai di pos 7 kami
hanya
berhenti
sejenak mengingat sudah semakin siang kami melanjutkan perjalanan ke pos 8.
Kami
menyusuri jalanan yang disamping kiri kanannya berdindingkan tanah – tanah yang
cukup
licin akibat hujan semalam.
Sampai di Pos 8 kami sudah disuguhi
pemandangan yang berbeda. Pohon – pohon
besar
berganti dengan tumbuhan semak dan tanaman edelweis. Indah sekali,,, aku yang
pertama
kali menelusuri tiap langkah ini kagum terhadap Keagungan Sang Pemilik
Keindahan
Alam ini. Kami melanjutkan perjalanan ke Pos 9.
Sesampainya di Pos 9 kami
beristirahat. Disini aku melihat pemandangan lain lagi.
Bebatuan
yang sebagian besar berwarna merah membentuk undukan yang sangat besar.
Mungkin
batu – batu itu juga hasil pengeluaran dari Gunung slamet ketika erupsi dulu.
Kami
berbagi makanan dengan rombongan dari baturaden itu. Kami langsung melanjutkan
perjalanan
untuk menuju puncak. Dalam hati ini aku berharap kami semua bisa berdiri di
titik tertinggi kedua Jawa setelah gunung merapi. Dengan berpegangan bebatuan
yang cukup kuat kami mulai naik. Sesekali angin mencoba menerjang kami
mendekatkan tubuh kami pada
bebatuan
yang kuat. Kami harus memilih jalan mana yang akan di ambil,batu mana yang
kami
injak jangan sampai menimbulkan longsoran karena dibelakang kami adalah teman
kami
sendiri. Setelah sekitar setengah jam kami sampai di tebing puncak Slamet. Ya
ada
sederet
bebatuan yang kuat, Bapak – bapak itu berhenti sampai di situ. Kami tidak hanya
sampai
di situ kami mencoba meraih titik tertingginya. Ada yang berjalan ada juga yang
merayap
karena anginnya sangat besar.
Disana kami kibarkan bendera KSR PMI Unit
Unsoed. Kami juga sempat mengabadikannya dengan menuliskan di sebuah batu. Sungguh semua lelah kemarin,dingin itu
terbayarkan walaupun pemandangan indah seperti lautan awan tak dapat ku lihat,
saat itu aku bahagia melihat asap- asap yang keluar dari kawah itu dan bau
belerang yang akan selalu ku ingat.
“Kloter Satu BISAA” Teriak kami bersama –
sama. (Tin & Yani)
………………………….



















