Sabtu, 10 Mei 2014

Manjat Bareng KSR PMI Unit UNSOED

           



















   Bulan Januari kemarin tepatnya, adalah pertama kali aku berkenalan dengan yang
 namanya gunung. Bersama kakak - kakak angkatan yaitu sebut saja mas Radit, mas Norma, mba Asri, mba Yani, dan saya Tin Ria. Dan posisiku sebagai angkatan termuda, angkatan
 XV. Sebelum keberangkatan, kami memang dituntut untuk latihan fisik, persiapan kami
harus lebih dari 200%. Lumayan setiap hari menabung lari minimal 6 kali putaran.
 GOR Soesilo Soedarman. Selain itu, menyusun SOP, menu untuk bekal dan itu butuh waktu lebih dari seminggu. Apalagi masalah isi tas kami, aku masih ingat perkataan mas dimen
"Kirain udah dimasukin, dikeluarin lagi". Bongkar pasang isian tas hampir setiap hari, catatan yah ini adalah pendakian untuk yang pertama kalinya bagi kami kecuali mas radit jadi  yang sudah sering sekali, bisa jadi tiap bulan hhe jadi harap maklum.
            Tidak hanya sampai di situ, hari pendakian sempat diundur untuk beberapa
hari, tapi hal itu membuatku semakin gugup. Memikirkan bagaimana nasibku disana melihat cuaca di purwokerto yang sulit diperkirakan. Sebelum berangkat keesokan harinya, malam
 hari kami berkumpul. Mengecek tenda, perbekalan, dan lainnya. Aku pulang bersama
 mba yani dan menginap di asput, aku masih ingat mba yani menulis di buku pada kolom
kembali "pukul 00.00".
            Hari pendakian tiba, ah aku semakin gugup. Pukul 14.00 aku ke markas, sedikit
 pengecekan tas aku lakukan "lagi". Hari itu agak mendung di Purwokerto. Sampai di
Bambangan, kami disapa gerimis dan hujan lebat pada pagi harinya. Selagi menunggu hujan
 reda, banyak pendaki dari berbagai kota yang baru turun. Mereka bercerita bahwa di atas
sana sedang badai, ada serangan babi, dan mereka tidak bisa "muncak".
            Pikiranku semakin berkecamuk, jadi manjat? Bisa muncak? Apa kabar badai dan
 babi? Ibu pemilik base camp juga menyarankan untuk mengurungkan niatan kami mendaki
hari itu dan kembali seminggu kemudian. Masa batal, aku sudah sejauh ini.
……………….( sampai Bambangan )………………………..
            Pendakian pun tetap berlanjut, sampai di gerbang saja sudah tidak karuan. Hujan dan dingin. Sampai di kebun, beristirahat sejenak, dan memutuskan untuk memakai mantel. Kami cukup sering beristirahat,  karena hambatan faktor alam ini. Hampir sampai di pos 1, aku
melihat sesuatu. Aku yakin ada pendaki di depan yang akan turun. Bukan hanya aku yang
 melihat, tapi kami semua. Aku sudah bersiap untuk minggir, berbagi jalan. Tapi, aku heran
 kenapa mereka tidak sampai sampai, aku hanya diam, menyimpan tanyaku.
            Akhirnya kita sampai di Pos 1 dengan ketinggian sekitar 1700 m dpl s. Di pos 1, kami memasak air untuk menghangatkan tubuh dan aku juga sudah lapar. Rasanya ATP  ku tidak mencukupi, sudah habis digilas hujan.Cuaca masih hujan, tapi harus terus dilanjutkan, sesuai dengan SOP yang telah disusun sebelumnya. Baru beberapa langkah, aku sudah melihat
 tanjakan yang cukup licin dan memutar otak bagaimana cara efektif. Ternyata caraku tidak
 efektif, aku terpeleset. Jalur menuju pos 2 menurutku jalur yang paling panjang, curam, dan gelap.  Jujur saja, aku takut. Tidak ada pendaki lain selain kami. Sampai pos 2, seperti biasa mengisi ulang kuota ATP untuk menuju pos selanjutnya.
            Menuju pos 3, aku bertemu dengan para pendaki yang turun. Aku perhatikan mereka. Wajah mereka sangat merindukan rumah, ingin sekali pulang. Mungkin mereka yang terjebak di pos 5 atau 7 gara - gara badai. Pakaian mereka basah. Yang aku herankan, aku melihat
seorang pendaki yang hanya memakai baju partai dan sarung dalam rombongan itu hha gokil juga nih. Sampai di pos 3, banyak pendaki yang akan turun. Aku melihat serombongan mahasiswa disana sedang bersiap siap. Dalam rombongan ini, aku hanya melihat seorang
perempuan diantara segerombolan laki laki. Ah sudahlah.
            Semangat 2 pos lagi. Perjalanan menuju pos 4 juga semakin menakutkan. Tanjakan semakin tinggi. Berjalan seperti di selokan penuh air diantara dinding tanah yang tinggi dan akukhawatir akan adanya cacing atau mungkin bisa saja yang lebih besar. Semakin dekat,
semakin melelahkan. Sekitar 2 km dari pos 4, kami beristirahat. Hujan semakin deras.
Mas radit sempat menawarkan untuk mendirikan tenda di tempat itu, tapi kami menolak.
Aku menolak, aku tidak mau, walaupun itu dataran. Aku takut, pepohonan di tempat itu
sangat lebat, akar - akar yang mencuat menandakan betapa tuanya pohon pohon disana.
            Tidak mau berlama lama, kami melanjutkan perjalanan kami. Sesuai perjanjian,
sampai di pos 4 kami tidak berhenti. Tidak ada jatah waktu beristirahat di pos 4. Daerah ini
adalah daerah yang rawan sekali terserang petir, terbukti banyak pohon – pohon yang
tumbang berwarna kehitaman. Selain itu ada juga beberapa hal lain yang membuat kita tak
berhenti di sana yah apalagi hari sudah semakin sore kami tak ingin berlama – lama berada
di tempat yang cukup berbahaya ini. Ya aku masih ingat ranting – ranting pohon yang kami
lewati seperti menunjuk awan diatas kami tanpa ada dedaunan yang meneduhi. Kami berjalandengan sangat hati – hati karena disamping kiri kami adalah jurang. Kami bergegas ingin
 segera sampai di Pos 5.

            Keresahan kami sedikit berkurang ketika kami melihat sebuah gubuk kecil,dindingnyaterbuat dari kayu dan seng serta tembelan - tembelan plastik bekas mantel hujan untuk
menutupi beberapa lubang di dinding itu. Di gubuk tidak ada orang, hanya kami berlima, ini merupakan keberuntungan kami karena Mas Radit (our leader ) mengatakan kalau lagi rame – ramenya mendaki bisa jadi kita buat tenda diluar gubuk. Aku tak bisa membayangkan
betapa dinginnya itu dan aku tidak ingin membayangkannya juga. Di Pos 5 kami mendirikan tenda diatas seperti panggungan dari papan di dalam gubuk itu. Sebagian dari kami juga ada
yang memasak air the + Jahe wangi (minuman pendamping semua menu). Dingin,lapar,lelah sepertinya akan jadi teman selama di sini. Malam harinya kita masak lagi nih, sesuai menu di jadwal. Untuk penerangan kita menyalakan lilin di dinding – dinding gubuk itu.
            Malam harinya ada rombongan yang mau naik juga ke Slamet, semuanya bapak –
 bapak mungkin ada juga sih yang belum jadi bapak hhe. Kami sedikit berkenalan mereka
dari baturaden. Bersama mereka kami berniat muncak esok hari. Karena udah malem kita
tidur berlima satu tenda dumb dengan Kantong tidur kita masing – masing. Sedikit banyak
berdesak – desakan.
            Keesokan harinya, pukul 04.00 kami bangun. Karena masih hujan kami memutuskan melakukan perjalanan pukul 07.00 . Bersama bapak – bapak itu kami menuju pos 6 . Oh ya
kita keatas dengan membawa bekal secukupnya saja selebihnya kita simpan di tenda. Sampai di Pos 6 kita beristirahat sebentar sekedar mengatur nafas dan minum oralit ditemani gula
jawa dan choki - choki disaku kami sebagai penambah energi. Sampai di pos 7 kami hanya
berhenti sejenak mengingat sudah semakin siang kami melanjutkan perjalanan ke pos 8.
Kami menyusuri jalanan yang disamping kiri kanannya berdindingkan tanah – tanah yang
cukup licin akibat hujan semalam.
            Sampai di Pos 8 kami sudah disuguhi pemandangan yang berbeda. Pohon – pohon
besar berganti dengan tumbuhan semak dan tanaman edelweis. Indah sekali,,, aku yang
pertama kali menelusuri tiap langkah ini kagum terhadap Keagungan Sang Pemilik
Keindahan Alam ini. Kami melanjutkan perjalanan ke Pos 9.
            Sesampainya di Pos 9 kami beristirahat. Disini aku melihat pemandangan lain lagi.
Bebatuan yang sebagian besar berwarna merah membentuk undukan yang sangat besar.
Mungkin batu – batu itu juga hasil pengeluaran dari Gunung slamet ketika erupsi dulu.
Kami berbagi makanan dengan rombongan dari baturaden itu. Kami langsung melanjutkan
perjalanan untuk menuju puncak. Dalam hati ini aku berharap kami semua bisa berdiri di titik tertinggi kedua Jawa setelah gunung merapi. Dengan berpegangan bebatuan yang cukup kuat kami mulai naik. Sesekali angin mencoba menerjang kami mendekatkan tubuh kami pada
bebatuan yang kuat. Kami harus memilih jalan mana yang akan di ambil,batu mana yang
kami injak jangan sampai menimbulkan longsoran karena dibelakang kami adalah teman
kami sendiri. Setelah sekitar setengah jam kami sampai di tebing puncak Slamet. Ya ada
sederet bebatuan yang kuat, Bapak – bapak itu berhenti sampai di situ. Kami tidak hanya
sampai di situ kami mencoba meraih titik tertingginya. Ada yang berjalan ada juga yang
merayap karena anginnya sangat besar.
             Disana kami kibarkan bendera KSR PMI Unit Unsoed. Kami juga sempat mengabadikannya dengan menuliskan di sebuah batu.  Sungguh semua lelah kemarin,dingin itu terbayarkan walaupun pemandangan indah seperti lautan awan tak dapat ku lihat, saat itu aku bahagia melihat asap- asap yang keluar dari kawah itu dan bau belerang yang akan selalu ku ingat.
 “Kloter Satu BISAA” Teriak kami bersama – sama. (Tin & Yani)

………………………….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar